| PRESIDEN PRABOWO |
PRABOWO HARUSNYA
BELAJAR KEPADA UMAR BIN KHATHAB DAN PEMIMPIN DUNIA DALAM MENANGANI BENCANA,
HARUS GERAK CEPAT DAN TEPAT SASARAN!
Artikel Terbaru Ke - 243
Oleh : Ahmad Wandi, M.Pd (ahmadwandilembang.com)
Bencana alam yang melanda berbagai wilayah
Indonesia, khususnya banjir besar yang berdampak pada rusaknya infrastruktur,
lumpuhnya ekonomi lokal, dan terancamnya ketahanan pangan, menuntut
kepemimpinan yang cepat, tegas, dan berorientasi pada keselamatan rakyat. Dalam
kondisi seperti ini, negara tidak cukup hadir melalui pernyataan empati atau
kunjungan seremonial, tetapi harus tampil dengan komando yang kuat, kebijakan
yang tepat sasaran, serta keberanian mengambil keputusan luar biasa. Perspektif
Islam dan pengalaman pemimpin dunia menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan
bencana sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan di saat krisis. Karena
itu, Presiden terpilih Prabowo Subianto seharusnya belajar dari teladan agung
Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallāhu ‘anhu dan para pemimpin dunia yang
terbukti berhasil mengelola bencana dan krisis kemanusiaan.
Dalam Islam, keselamatan jiwa adalah prinsip utama.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
“Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah
memelihara kehidupan seluruh manusia.” (QS. al-Mā’idah: 32)
Ayat ini menegaskan bahwa penyelamatan rakyat dari
dampak bencana merupakan kewajiban negara yang bernilai ibadah dan amanah
besar. Sejarah Islam mencatat teladan paling konkret dalam diri Umar bin
Khaththab ketika menghadapi bencana kelaparan hebat pada Tahun Ramādah (18 H).
Ibn Katsir menjelaskan bahwa kekeringan tersebut menyebabkan manusia dan hewan
hampir binasa, sementara debu hitam menyelimuti Jazirah Arab (Ibn Katsir, Al-Bidāyah
wa an-Nihāyah, Juz 7, hlm. 99–103). Umar tidak menunggu keadaan memburuk.
Ia mengambil alih kendali penuh negara, memusatkan komando, dan menjadikan
penderitaan rakyat sebagai penderitaannya sendiri. Diriwayatkan bahwa Umar
bersumpah tidak akan memakan daging dan lemak hingga rakyatnya kenyang. Ketika
perutnya berbunyi karena lapar, ia berkata, “Berbunyi atau tidak, demi Allah
engkau tidak akan merasakan lemak hingga kaum muslimin kenyang” (Ibn Sa‘d, Ṭabaqāt
al-Kubrā, Juz 3, hlm. 213).
Sikap ini merupakan pengejawantahan sabda Nabi
Muhammad ﷺ:
«الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Pemimpin adalah penggembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas
rakyatnya.” (HR. al-Bukhari no. 893; Muslim no. 1829)
Umar tidak hanya empatik, tetapi juga sangat
strategis. Ia mengirimkan instruksi resmi kepada para gubernur di Mesir, Syam,
dan Irak untuk segera mengirimkan bantuan pangan. Amr bin Ash mengirimkan
kapal-kapal gandum dari Mesir melalui jalur laut, sementara bantuan dari Irak
dan Syam dikirim melalui jalur darat dengan pengawalan terorganisir
(ath-Thabari, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, Juz 4, hlm. 230–232). Langkah
ini mencerminkan prinsip solidaritas nasional dan lintas wilayah yang tegas,
sejalan dengan firman Allah:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan
ketakwaan.” (QS. al-Mā’idah: 2)
Apa yang dilakukan Umar sejatinya sejalan dengan teori modern manajemen bencana. Para ahli kebencanaan menegaskan bahwa keberhasilan respon krisis ditentukan oleh kecepatan pengambilan keputusan, sentralisasi komando, dan kejelasan distribusi sumber daya. David Alexander, pakar manajemen bencana internasional, menyebut bahwa keterlambatan negara pada fase awal bencana hampir selalu berujung pada krisis kemanusiaan yang lebih besar (David Alexander, Natural Disasters, Springer, 1993, hlm. 45–47).
Pengalaman para pemimpin dunia modern juga
memperkuat pelajaran ini. Angela Merkel, misalnya, dikenal luas karena
kepemimpinannya yang rasional dan berbasis data dalam menghadapi berbagai
krisis, termasuk banjir besar di Jerman dan pandemi. Ia memprioritaskan
keselamatan warga, transparansi informasi, dan koordinasi lintas negara bagian,
sehingga kepercayaan publik tetap terjaga (Robin Alexander, Die Getriebenen,
Siedler Verlag, 2017, hlm. 112–118). Jacinda Ardern di Selandia Baru juga
dipuji karena respon cepat, komunikasi empatik, dan keputusan tegas dalam
menghadapi krisis nasional, yang menurut para analis kebijakan publik merupakan
kombinasi ideal antara empati dan efektivitas (Stephen Levine, Leadership in
Crisis, Victoria University Press, 2020, hlm. 67–72).
Lee Kuan Yew memberikan pelajaran berbeda namun
sama pentingnya. Ia membangun sistem mitigasi dan ketahanan nasional jauh
sebelum bencana terjadi, terutama dalam krisis air dan kesehatan publik. Para
ahli menyebut pendekatan ini sebagai kepemimpinan preventif, yaitu mencegah bencana
menjadi krisis besar melalui kebijakan jangka panjang (Lee Kuan Yew, From
Third World to First, HarperCollins, 2000, hlm. 89–95). Bahkan Abraham
Lincoln, dalam konteks Perang Saudara Amerika, dinilai berhasil mengelola
krisis kemanusiaan besar melalui mobilisasi sumber daya nasional dan
kepemimpinan moral yang kuat (Doris Kearns Goodwin, Team of Rivals,
Simon & Schuster, 2005, hlm. 345–352).
Islam menegaskan bahwa kekuasaan adalah amanah berat. Imam al-Ghazali berkata, “Kerusakan rakyat disebabkan oleh rusaknya penguasa, dan rusaknya penguasa disebabkan oleh rusaknya ulama” (al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Juz 1, hlm. 17).
Ibn Taimiyah menegaskan bahwa tujuan kekuasaan adalah menegakkan keadilan dan mencegah kezaliman, termasuk kezaliman berupa pembiaran penderitaan rakyat (As-Siyāsah asy-Syar‘iyyah, hlm. 29–31).
Ibnul Qayyim menambahkan bahwa dosa dan kelalaian moral sering menjadi sebab turunnya musibah, namun solusinya adalah perbaikan sistem dan keadilan sosial (Al-Jawāb al-Kāfī, hlm. 45).
Karena itu, jika Prabowo Subianto ingin dikenang
sebagai pemimpin kuat dan bersejarah, maka penanganan bencana harus menjadi
panggung utama kepemimpinannya. Belajar dari Umar bin Khaththab dan para
pemimpin dunia terbaik, negara harus bergerak cepat, tepat sasaran, memusatkan
komando, membuka kerja sama nasional dan internasional, serta menempatkan
keselamatan rakyat di atas kepentingan politik. Inilah kepemimpinan yang bukan
hanya efektif secara teknis, tetapi juga sah secara moral dan spiritual. Semoga
Allah Ta‘ala membimbing para pemimpin negeri ini untuk menunaikan amanah dengan
adil dan penuh tanggung jawab. Āmīn.
Lembang, 28 Jumadal Akhirah 1447 H/ 19
Desember 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar